Siang tadi, kira -kira jam 12 ada kisah di rumah jabatan Bupati Malaka yang berlokasi di Weleun, tanggal 4 Juli 2022.

Siang itu, saya memang ada janjian dengan orang nomor satu di Kabupaten Malaka, sang doktor hukum perpajakan, Simon Nahak.

Dia baru saja pulang dari Kabupaten Ende, ikut merayakan Hari Lahir Pancasila bersama Presiden Jokowi dan seluruh pejabat Negara Republik Indonesia.

Biasanya, bupati kedua Kabupaten Malaka itu butuh berbagi cerita dan diskusi ringan bersama awak media, usai melakukan kunjungan dari suatu daerah.

Sebelumnya, beliau sudah menghubungi saya untuk bertemu khusus di ruangannya pada hari ini Sabtu (04/06/2022). Pertemuan empat mata.

Sebagai jurnalis, menghargai waktu itu kunci menuju sukses dalam kehidupan sehari-hari sebagai pewarta kabar baik di kabupaten Malaka.

Untuk itu, sebelum tiba waktu yang ditentukan, saya sudah duduk manis menunggu giliran di teras rumah jabatan Bupati Malaka.

Sambil menunggu, saya disuguhi kopi dan beberapa potong kue pisang oleh pramusaji. Hal ini biasa dan itu adalah tugas mereka melayani tamu bupati.

"Terima kasih mama."
"Silakan minum pak..."

Lima menit kemudian, kopi hitam dalam gelas melamin itu sudah setengah isinya. Rupanya nikmat juga menikmati kopi panas di siang bolong yang terlalu panas di kolong langit Malaka.

Beberapa saat kemudian, Bupati Simon Nahak keluar dari pintu rumahnya. Beliau tampak tergesa-gesa, di tangan kanannya memegang jas berwarna merah.

"Tolong foto bapak dulu nai Ido," pintanya.

Tidak menjawab, namun saya langsung bangkit berdiri menaiki tangga rumah di depan saya langsung menuju dirinya.

Ternyata Bupati Simon, hendak mengenakan jas merah PDI Perjuangan dan meminta saya memotretnya.

"Dari DPP ada minta segera. Tolong nai Ido potret yang terbaik," pintanya dan langsung memberikan handphone miliknya kepada saya untuk memotret.

Beberapa gambar dirinya terekam jelas di file handphone milik Bupati Malaka. Saya langsung menyerahkan kembali handphone-nya.

"Mantap ini, terima kasih Ido," ujarnya sambil tersenyum kepada saya.

Bupati Simon kembali masuk ke rumah, menanggalkan kembali jas kebesaran PDI Perjuangan itu.

Beberapa menit kemudian, dirinya keluar lagi memanggil saya masuk ke ruang pribadinya.

Saya melangkah mengikutinya. Di dalam ruangan itu, ada diskusi dan tukar pikiran memajukan Kabupaten Malaka dari segala aspek, upaya mewujudkan program prioritas SNKT (SAKTI).

Tidak lupa juga berdiskusi tentang sosial politik dan beberapa isu yang beredar ramai belakangan ini.

"Bapak makin merah akhir -akhir ini," kelakar saya saat menyinggung isu politik.

"Tenang saja anak, yang terpenting adalah masyarakat Malaka sejahtera dan fokus saya adalah terwujudnya program Sakti," kata mantan pengacara Pemprov Bali itu dengan semangat.

Rupanya, diskusi itu cukup menyita waktu. Kurang lebih 1 jam kami berdua habiskan untuk membahas banyak hal.

Kebanggaan bagi saya adalah, bisa berdiskusi dengan seorang doktor hukum yang cukup lama. Jarang ada seperti seorang doktor Simon Nahak.

Terima kasih doktor.

Kontributor: Frido Umrisu Raebesi