Oleh: Markus Lapi Witi

Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ia adalah simbol harapan di tengah luka panjang akibat bencana, sekaligus cermin keseriusan negara dalam menghadirkan keadilan bagi warganya yang terdampak.

Sejak erupsi besar mengguncang kawasan tersebut, ribuan warga kehilangan rumah, lahan, bahkan rasa aman yang selama ini menjadi fondasi kehidupan mereka. Dalam situasi seperti itu, kehadiran negara melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi sangat krusial. Rencana pembangunan sekitar 500 unit hunian permanen dengan dukungan anggaran Rp90 miliar menunjukkan adanya komitmen nyata pemerintah pusat dan daerah untuk memulihkan kehidupan masyarakat.

Pilihan penggunaan teknologi rumah tahan gempa seperti RISHA dan RUSPIN patut diapresiasi. Ini menandakan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga kualitas dan keamanan jangka panjang. Di wilayah rawan bencana seperti Flores Timur, pendekatan ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun demikian, optimisme tersebut tidak boleh menutup mata terhadap berbagai kendala yang masih dihadapi. Persoalan legalitas lahan dan lambannya proses administrasi menjadi hambatan serius yang berpotensi memperlambat realisasi pembangunan. Padahal, waktu adalah faktor krusial bagi para pengungsi yang hingga kini masih bertahan di hunian sementara dengan segala keterbatasan.

Lebih dari itu, pembangunan huntap seharusnya tidak dipandang sebagai solusi tunggal. Rumah memang kebutuhan dasar, tetapi kehidupan yang layak tidak berhenti pada dinding dan atap. Akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur jalan, serta sumber penghidupan baru harus menjadi bagian integral dari kawasan relokasi. Tanpa itu, huntap berisiko berubah menjadi permukiman yang terisolasi dan tidak berkelanjutan.

Harapan besar kini berada di pundak pemerintah untuk memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan berjalan tepat waktu, transparan, dan berpihak pada kebutuhan warga. Partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan juga menjadi kunci agar kebijakan yang diambil benar-benar menjawab realitas di lapangan.

Pada akhirnya, pembangunan hunian tetap bagi korban erupsi Lewotobi adalah ujian nyata bagi komitmen negara dalam menghadirkan keadilan sosial pascabencana. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah rumah yang berdiri, tetapi dari sejauh mana ia mampu mengembalikan martabat, rasa aman, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Flores Timur.

Di tengah puing-puing bencana, huntap harus menjadi titik awal kebangkitan—bukan sekadar tempat berteduh, tetapi ruang untuk kembali membangun kehidupan dengan harapan yang baru.