Oleh: Yohanes Raflyanto Juinaidy Mbelo
Mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng
Pendidikan memiliki peran besar dalam membangun kualitas manusia dan masa depan bangsa. Salah satu unsur penting dalam pendidikan yang perlu mendapat perhatian lebih adalah literasi.
Literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menelaah, serta menggunakan informasi secara bijak dan kritis. Di tingkat Sekolah Dasar (SD), literasi menjadi pondasi utama yang akan menentukan kemampuan berpikir dan belajar anak pada jenjang berikutnya.
Namun, realitas menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), kemampuan membaca siswa Indonesia masih di bawah rata-rata negara lain. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran guru SD dalam menumbuhkan minat baca dan membangun budaya literasi sejak dini.
Usia sekolah dasar adalah masa yang sangat menentukan dalam perkembangan anak. Pada masa ini, anak memiliki rasa ingin tahu tinggi dan kemampuan berpikir yang sedang berkembang pesat. Apabila kebiasaan membaca dan menulis ditanamkan sejak awal, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan terbiasa memahami informasi secara mendalam. Sebaliknya, jika literasi tidak diperhatikan, anak akan kesulitan memahami pelajaran dan beradaptasi di jenjang pendidikan selanjutnya.
Guru berperan penting dalam menanamkan budaya literasi di sekolah dasar. Pembelajaran hendaknya tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pada proses membiasakan anak membaca dan menulis dengan cara yang menyenangkan. Contohnya, guru bisa menerapkan kegiatan membaca sebelum pelajaran dimulai, membuat sudut baca di kelas, atau mengajak siswa menulis pengalaman mereka dalam bentuk jurnal sederhana. Kegiatan kecil seperti ini dapat menumbuhkan minat baca dan memperkuat kemampuan berpikir anak.
Selain guru, dukungan sekolah dan keluarga juga sangat dibutuhkan. Sekolah dapat menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan literasi seperti perpustakaan yang nyaman, lomba membaca dan menulis, serta program literasi rutin. Sementara itu, orang tua bisa melanjutkan kebiasaan tersebut di rumah, misalnya dengan membacakan buku cerita atau menyediakan bahan bacaan yang sesuai usia anak. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua akan membantu membangun kebiasaan literasi yang berkelanjutan.
Kemampuan literasi yang baik di sekolah dasar akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Anak-anak yang gemar membaca cenderung memiliki pengetahuan luas, berpikir terbuka, serta mampu menilai informasi dengan kritis. Mereka juga tidak mudah terpengaruh oleh berita palsu dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan zaman.
Dengan demikian, literasi tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan tambahan, melainkan bagian penting dari proses belajar. Guru, sekolah, dan orang tua harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Dengan begitu, kita dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kritis, kreatif, dan berkarakter kuat.